Fenomena "Curhat ke AI" di Kalangan Gen Z dan Milenial Indonesia serta Kaitannya dengan Pembelajaran Kecerdasan Emosional
Hiburan

Fenomena "Curhat ke AI" di Kalangan Gen Z dan Milenial Indonesia serta Kaitannya dengan Pembelajaran Kecerdasan Emosional

đź“…

Dipublikasikan

Sunday, 16 August 2026 - 03:58 WIB

🏢

Unit Kerja / Kantor

Pusat
Pendahuluan
Sepanjang tahun 2026, media di Indonesia ramai membahas satu fenomena sosial yang cukup mengejutkan: semakin banyak anak muda—khususnya Generasi Z dan milenial—yang menjadikan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai tempat curhat. Bukan lagi sekadar alat bantu tugas kuliah atau pekerjaan, chatbot seperti ChatGPT, Character.AI, dan berbagai aplikasi companion AI kini diperlakukan layaknya teman dekat yang siap mendengarkan kapan saja. Fenomena ini menarik untuk dikaji bukan hanya dari sisi teknologi, tetapi juga dari sisi psikologis, khususnya dalam kerangka kecerdasan emosional (emotional intelligence/EI). Esai ini akan membahas gambaran fenomena tersebut berdasarkan data terkini, faktor-faktor pendorongnya, serta bagaimana tren ini berkaitan dengan pembelajaran kecerdasan emosional bagi generasi muda Indonesia.

Gambaran Fenomena: Data dan Angka
Beberapa lembaga riset mencatat lonjakan signifikan perilaku "curhat ke AI" pada generasi muda Indonesia sepanjang 2025–2026. Survei IDN Research Institute yang dilakukan pada Januari–April 2026 terhadap responden Gen Z dan milenial menemukan bahwa lebih dari 70 persen responden pernah curhat kepada AI, dengan angka mencapai 81,1 persen pada Gen Z dan 63,6 persen pada milenial (IDN Times, 2026). Riset yang sama mengungkap bahwa alasan utama beralih ke AI bukan sekadar hiburan, melainkan karena sebagian besar responden merasa lingkungan sekitarnya tidak menyediakan ruang aman yang cukup untuk bercerita, dengan topik yang paling banyak dibahas meliputi overthinking, kecemasan, karier, masa depan, hingga burnout. Mereka mengaku nyaman menggunakan AI karena selalu tersedia, tidak menghakimi, dan menawarkan privasi.
Temuan senada juga muncul dari riset Yayasan Digital Resilience Indonesia (DiRI) yang dipublikasikan Juli 2026. Riset ini menemukan bahwa 59,4 persen Gen Z Indonesia pernah mencurahkan persoalan pribadinya kepada AI, dengan topik seputar pendidikan, percintaan, masa depan, kesehatan, dan keluarga (Metro TV News, 2026). Yang menarik, peneliti DiRI menyoroti adanya paradoks: Gen Z sebenarnya cukup memahami risiko bias dan halusinasi AI, namun tetap memilih chatbot sebagai tempat bercerita karena tingginya krisis ruang aman dan minimnya pendengar tanpa penghakiman di dunia nyata. Paradoks lain juga muncul pada aspek privasi—mayoritas responden menyadari risiko penyalahgunaan data, tetapi tetap membagikan curahan hatinya kepada AI.
Riset global Kaspersky turut memperkuat gambaran ini. Survei tersebut menunjukkan AI mulai diperlakukan sebagai teman curhat dan pendamping emosional, terutama di kalangan generasi muda, dengan 35 persen responden usia muda tertarik memanfaatkan AI sebagai sumber dukungan emosional (Suara.com, 2026), dibandingkan hanya 19 persen responden berusia di atas 55 tahun. Skala ekonomi dari fenomena ini pun tidak kecil: pasar chatbot roleplay AI diproyeksikan tumbuh pesat, dan Indonesia tercatat sebagai negara dengan kontribusi kunjungan tertinggi kedua di dunia ke platform Character.AI setelah Amerika Serikat.

Mengapa Anak Muda Indonesia Memilih Curhat ke AI?
Ada beberapa faktor yang mendorong tren ini. Pertama, faktor aksesibilitas dan ketiadaan penghakiman. Berbeda dari interaksi sosial di dunia nyata yang kerap diwarnai rasa takut akan penolakan, chatbot AI menawarkan pengalaman berbicara tanpa tekanan sosial, memungkinkan pengguna membentuk karakter dan bereksperimen dengan emosi tanpa risiko dihakimi (IDN Times, 2026). Kedua, faktor krisis kepercayaan sosial. Sejumlah pengamat menilai fenomena ini mencerminkan realitas yang lebih dalam, yakni adanya krisis kepercayaan dalam relasi pertemanan modern, di mana interaksi di media sosial yang artifisial membuat sebagian anak muda merasa kesepian sekaligus skeptis terhadap ketulusan orang di sekitarnya. Seorang sosiolog dari Universitas Indonesia menilai ketergantungan emosional pada AI ini menjadi alarm bagi kondisi relasi sosial manusia saat ini (Radar TV Disway, 2026).
Ketiga, faktor kepraktisan dan validasi instan. Banyak pengguna muda mengaku merasa lega setelah curhat ke AI karena mendapat respons cepat yang terasa empatik dan tidak pernah lelah mendengarkan. Namun para ahli mengingatkan bahwa kenyamanan ini berisiko menimbulkan ketergantungan, bahkan psikolog menyebut pola ketergantungan berlebihan terhadap AI berpotensi meningkatkan risiko penarikan diri dari lingkungan sosial. Seorang psikiater dari FKUI-RSCM turut mengingatkan bahaya praktik self-diagnosis kesehatan jiwa menggunakan AI, karena AI tidak selalu mampu membaca gejala psikologis secara akurat (Siaran Berita, 2026).

Kaitan dengan Pembelajaran Kecerdasan Emosional
Fenomena curhat ke AI ini tidak bisa dilepaskan dari konsep kecerdasan emosional yang dipopulerkan oleh Daniel Goleman. Goleman mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai kemampuan mengenali perasaan diri sendiri dan orang lain, kemampuan memotivasi diri, serta kemampuan mengelola emosi dengan baik, baik pada diri sendiri maupun dalam hubungan dengan orang lain (Academia.edu, dalam Kecerdasan Emosional Menurut Daniel Goleman). Ia merinci lima komponen inti kecerdasan emosional, yaitu mengenali emosi diri sendiri, mengelola emosi, motivasi diri, mengenali emosi orang lain (empati), dan membina hubungan (Digilib IAIN Pontianak, 2022).
Jika ditelaah lewat kerangka lima komponen tersebut, fenomena curhat ke AI memperlihatkan gambaran yang ambivalen bagi perkembangan EI generasi muda.
Di satu sisi, ada potensi manfaat. Proses curhat—baik kepada manusia maupun AI—pada dasarnya melibatkan komponen pertama kecerdasan emosional, yaitu kesadaran diri (self-awareness). Menuliskan atau mengungkapkan perasaan kepada chatbot memaksa seseorang untuk mengenali dan menamai emosinya sendiri, sebuah langkah awal yang penting dalam regulasi emosi. Respons AI yang tenang dan tidak menghakimi juga bisa menjadi ruang latihan yang rendah risiko bagi individu yang cemas untuk pertama kali mengartikulasikan perasaannya sebelum akhirnya berani membicarakannya dengan manusia.
Di sisi lain, ada risiko yang lebih besar. Komponen keempat dan kelima dari kecerdasan emosional—empati dan keterampilan membina hubungan—hanya bisa benar-benar terlatih melalui interaksi dengan manusia lain yang memiliki emosi, sudut pandang, dan potensi konflik yang nyata. AI, betapa pun responsif dan "empatik" nadanya, tidak memiliki kesadaran emosional yang sejati dan tidak pernah benar-benar menantang penggunanya sebagaimana relasi manusia yang organik. Ketika generasi muda terus-menerus memilih AI karena "tidak pernah menghakimi" dan "tidak pernah marah", mereka berisiko kehilangan kesempatan berlatih menghadapi gesekan sosial, perbedaan pendapat, dan penolakan—pengalaman yang justru penting untuk mengasah toleransi terhadap ketidaknyamanan emosional dan keterampilan komunikasi interpersonal. Para ahli bahkan menegaskan bahwa hubungan antarmanusia yang organik, lengkap dengan segala dinamika dan kekurangannya, tetap menjadi fondasi utama bagi kesehatan mental jangka panjang (Radar TV Disway, 2026).
Selain itu, ketergantungan pada validasi instan dari AI berpotensi melemahkan komponen ketiga EI, yaitu motivasi diri dan kemampuan menoleransi frustrasi. Ketika seseorang terbiasa mendapat respons yang selalu menenangkan dan menyenangkan, kapasitas untuk menghadapi situasi emosional yang lebih kompleks dan tidak nyaman—yang lazim terjadi dalam hubungan manusiawi—bisa menjadi kurang terlatih.

Peluang dan Tantangan bagi Pendidikan Kecerdasan Emosional
Fenomena ini semestinya menjadi pemantik penting bagi dunia pendidikan dan pengasuhan di Indonesia untuk memperkuat pembelajaran EI secara lebih sistematis. Kementerian Komunikasi dan Informatika RI sendiri mencatat bahwa transformasi digital telah mendorong munculnya berbagai bentuk komunikasi baru yang lebih praktis dan efisien, namun keseimbangan antara penggunaan teknologi dan interaksi sosial langsung tetap penting untuk dijaga demi kesehatan mental secara menyeluruh (RRI.co.id, 2026).
Beberapa langkah yang relevan antara lain: pertama, sekolah dan keluarga perlu menghadirkan kembali ruang aman bagi anak muda untuk bercerita tanpa takut dihakimi, mengingat riset menunjukkan krisis ruang aman menjadi salah satu pendorong utama tren ini. Kedua, pendidikan literasi digital kritis perlu memasukkan pemahaman tentang batas kemampuan AI, agar generasi muda tidak keliru memperlakukan chatbot sebagai pengganti penuh dukungan psikologis profesional. Ketiga, kurikulum pembelajaran EI—baik di sekolah maupun pelatihan non-formal—dapat memanfaatkan AI sebagai alat bantu awal untuk melatih kesadaran diri, namun tetap mengarahkan penggunanya untuk mempraktikkan empati dan keterampilan relasional secara langsung dengan sesama manusia.

Kesimpulan
Fenomena "curhat ke AI" yang viral di kalangan Gen Z dan milenial Indonesia pada 2026 adalah cerminan dari kebutuhan emosional generasi muda yang belum sepenuhnya terpenuhi oleh lingkungan sosial di sekitarnya. Data dari berbagai lembaga riset menunjukkan bahwa mayoritas anak muda Indonesia telah menjadikan AI sebagai tempat bercerita, didorong oleh rasa aman, ketiadaan penghakiman, dan privasi yang ditawarkan teknologi tersebut. Namun, jika ditinjau dari kerangka kecerdasan emosional Daniel Goleman, tren ini memiliki dua sisi: berpotensi melatih kesadaran diri di tahap awal, tetapi juga berisiko menghambat perkembangan empati, motivasi diri, dan keterampilan membina hubungan yang hanya bisa tumbuh optimal melalui interaksi manusiawi yang otentik. Oleh karena itu, penguatan pembelajaran kecerdasan emosional—baik di keluarga, sekolah, maupun komunitas—menjadi semakin mendesak agar generasi muda dapat memanfaatkan AI secara bijak tanpa kehilangan kapasitas emosional dan sosialnya sebagai manusia.

Daftar Pustaka
IDN Times. (2026, 17 Juni). Riset: 81 Persen Gen Z Indonesia Pernah Curhat ke AI, Ini Alasannya. https://www.idntimes.com/news/indonesia/idn-research-81-gen-z-indonesia-pernah-curhat-ke-ai-ini-alasannya-00-481xk-6fpxpm
Suara.com. (2026, 2 Januari). Lebih dari 30 Persen Warga Indonesia Curhat ke AI saat Sedih, Fenomena Baru di Era Digital (berdasarkan riset Kaspersky). https://www.suara.com/tekno/2026/01/02/102227/lebih-dari-30-persen-warga-indonesia-curhat-ke-ai-saat-sedih-fenomena-baru-di-era-digital
Metro TV News. (2026, 16 Juli). Riset: 6 dari 10 Gen Z Indonesia Pernah Curhat ke AI (berdasarkan riset Yayasan Digital Resilience Indonesia/DiRI). https://www.metrotvnews.com/read/kj2CD8d9-riset-6-dari-10-gen-z-indonesia-pernah-curhat-ke-ai
Yayasan Digital Resilience Indonesia (DiRI). (2026). Riset DiRI: Ketika AI Menjadi Tempat Curhat Gen Z, Apakah Mereka Benar-Benar Memahami Risikonya? https://digitalresilience.id/riset-diri-genz-chat-di-ai/
Oppal. (2026). Kenapa 81% Gen Z Indonesia Lebih Pilih Curhat ke AI? https://oppal.co.id/news/detail/kenapa-81-gen-z-indonesia-lebih-pilih-curhat-ke-ai
Radar TV Disway. (2026, 13 Juli). Fenomena Gen Z Lebih Memilih Curhat ke ChatGPT ketimbang Teman Sendiri: "AI Enggak Bakal Menghakimi". https://radartv.disway.id/teknologi/read/36762/fenomena-gen-z-lebih-memilih-curhat-ke-chatgpt-ketimbang-teman-sendiri-ai-enggak-bakal-menghakimi
Siaran Berita. (2026, 18 Juni). Trend Curhat ChatGPT: Pleasant Experience Yang Bikin Gen Z Lega. https://siaran-berita.com/trend-curhat-chatgpt-pleasent-experience-yang-bikin-gen-z-lega/
RRI.co.id. (2026, 30 April). Fenomena Curhat ke AI, Tren Baru di Era Digital (mengutip Kementerian Komunikasi dan Informatika RI).
https://rri.co.id/kendari/iptek/2375838/fenomena-curhat-ke-ai-tren-baru-di-era-digital
Cenderawasih Pos (Jawa Pos Group). (2026, 30 Januari). Fenomena Curhat ke AI di Kalangan Anak Muda, Apa Alasannya? (mengutip Survei Snapcart). https://cenderawasihpos.jawapos.com/nasional/30/01/2026/fenomena-curhat-ke-ai-di-kalangan-anak-muda-apa-alasannya/
Al-Musyrif: Jurnal Bimbingan dan Konseling Islam. (2021). Mengenal Konsep Daniel Goleman dan Pemikirannya dalam Kecerdasan Emosi. https://ejournal.uiidalwa.ac.id/index.php/almusyrif/article/view/480
Academia.edu. Kecerdasan Emosional Menurut Daniel Goleman. https://www.academia.edu/36392774/Kecerdasan_emosional_menurut_Daniel_Goleman
Digilib IAIN Pontianak. (2022). Kecerdasan Emosional: Perbandingan Konsep Daniel Goleman dan Harjani Hefni. https://digilib.iainptk.ac.id/xmlui/handle/123456789/944
Universitas Medan Area (UMA), Fakultas Psikologi. Kecerdasan Emosi: Pengertian, Teori, dan Cara Meningkatkannya. https://psikologi.uma.ac.id/wp-content/uploads/2018/12/KECERDASAN-EMOSI.pdf

oleh Elfira Harni Ananda - mahasiwa Universitas Siber Asia

Terkaits

Hiburan

Bagikan Berita

đź“°

Tetap Terinformasi

Dapatkan update berita terbaru langsung ke email Anda